Tentang: Rahmat

 TANYA:

Kang Al, saya sebenarnya tertarik belajar mengenai tashawwuf. Namun, saya masih merasa belum siap untuk memahaminya. Apakah ada buku atau langkah yang perlu saya baca dan pahami?"
: : :
JAWAB:
Ada sebuah kisah menarik dari tradisi Zen. Seorang guru besar dari sebuah perguruan tinggi mengunjungi Nan In, guru Zen di Jepang. Mereka duduk saling berhadapan. Guru besar itu minta dijelaskan mengenai apakah itu Zen. Nan In dengan tenang menuangkan teh ke dalam cangkir. Meskipun, cangkir itu sudah penuh, ia menuang terus. Sampai akhirnya guru besar itu tidak tahan lagi. Ia berkata, “Guru jangan tuang lagi, teh sudah melimpah keluar.”
Nan In tersenyum, dan berkata, “Engkau persis cangkir ini, penuh dengan pandangan dan cara berpikirmu sendiri. Jika kau tidak kosongkan dahulu, bagaimana saya mesti menunjukkan Zen kepadamu?”
Bagi saya, itu adalah sebuah kisah yang sangat bagus bagi siapa pun yang katanya mau belajar tashawwuf, tapi di kepalanya sudah banyak waham dan prasangka ini itu. Mursyid saya pernah memberi analogi bahwa waham semacam itu tak ubahnya seperti orang yang mengharapkan bisa meneguk air minum bening dengan menuangkannya ke dalam gelas yang di dasarnya mengendap banyak dedak kopi. Dia tak akan mendapatkan air bening untuk diminum; hanya air yang keruh bercampur dedak kopi.
Buanglah terlebih dahulu ‘dedak kopi’ prasangka dalam diri kita, prasangka bahwa tashawwuf itu bid‘ah entah kata pemuka agama mana pun itu; bahwa tashawwuf itu mistik yang irasional kata para pembelajar filsafat; bahwa dalam dunia tashawwuf -- khususnya dalam thariqah -- dituntut taqlid buta kepada mursyid yang mematikan nalar dan daya kritis sang salik sebagaimana sering diungkap dalam kajian Tasawuf Positif, dan berbagai ‘dedak kopi’ prasangka lainnya.
Dalam hadits Qudsi yang diriwayatkan oleh Syaikhani dan Turmidzi dari Abu Hurairah ra, Allah berfirman sebagai berikut:
“Aku sesuai dengan persangkaan hamba-Ku kepada-Ku. Jika ia ingat kepada-Ku di dalam hatinya, Aku pun ingat pula kepadanya di dalam hati-Ku. Dan jika ia ingat kepada-Ku di lingkungan khalayak ramai, niscaya Aku pun ingat kepadanya di dalam lingkungan khalayak ramai yang lebih baik. Dan jika ia mendekat pada-Ku sejengkal, Aku pun mendekat pula padanya sehasta. Jika ia mendekat pada-Ku sehasta, niscaya Aku mendekat padanya sedepa. Dan jika dia datang pada-Ku dengan berjalan, maka Aku mendatanginya sambil berlari.”
Sedangkan dalam QS Al Baqarah [2]: 152, Allah berfirman, “Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.”
Sungguh, ada satu hal yang tak mungkin Allah lakukan terhadap seorang manusia yang tulus dan bersungguh-sungguh ingin kembali dan mencari jalan kembali kepada-Nya, yaitu “Allah malah menyesatkannya sehingga dia tidak menemukan jalan kembali.”
Coba simak hadits berikut ini:
Hadits riwayat Abdullah bin Masud ra; ia berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah saw bersabda: Sungguh Allah akan lebih senang menerima taubat hamba-Nya yang beriman daripada seseorang yang berada di tanah tandus yang berbahaya bersama hewan tunggangan yang membawa bekal makanan dan minumannya. Lalu dia tidur kemudian ketika bangun didapati hewan tunggangannya tersebut telah menghilang. Dia pun segera mencarinya sampai merasa dahaga kemudian dia berkata dalam hatinya: Sebaiknya saya kembali ke tempat semula dan tidur di sana sampai saya mati. Lalu dia tidur dengan menyandarkan kepalanya di atas lengan sampai mati. Tetapi ketika ia terbangun didapatinya hewan tunggangannya telah berada di sisinya bersama bekal makanan dan minuman. Allah lebih senang dengan taubat seorang hamba mukmin, daripada orang semacam ini yang menemukan kembali hewan tunggangan dan bekalnya.” (Shahih Muslim No. 4929)
Hadits riwayat Anas bin Malik ra; ia berkata, “Rasulullah saw bersabda, ‘Sungguh Allah akan lebih senang menerima taubat hamba-Nya ketika ia bertaubat kepada-Nya daripada (kesenangan) seorang di antara kamu sekalian yang menunggang untanya di tengah padang luas yang sangat tandus, lalu unta itu terlepas membawa lari bekal makanan dan minumannya dan putuslah harapannya untuk memperoleh kembali. Kemudian dia menghampiri sebatang pohon lalu berbaring di bawah keteduhannya karena telah putus asa mendapatkan unta tunggangannya tersebut. Ketika dia dalam keadaan demikian, tiba-tiba ia mendapati untanya telah berdiri di hadapan. Lalu segera ia menarik tali kekang unta itu sambil berucap dalam keadaan sangat gembira: Ya Allah, Engkau adalah hambaku dan aku adalah Tuhan-Mu. Dia salah mengucapkan karena terlampau merasa gembira.’” (Shahih Muslim No. 4932)
Jadi, lebih baik luruskan dan murnikan dulu niat diri sendiri dalam mencari jalan kembali kepada Allah. Tidak perlu telaten merawat waham. Serahkan saja semua kemampuan yang kita punya kepada-Nya, bersimpuh dan memohonlah kepada-Nya agar ditunjuki jalan yang benar. Sungguh, tanpa bantuan dan bimbingan dari-Nya, bagaimana kita akan bisa mengimani seorang lelaki yang membuat perahu di kaki bukit itu adalah seorang Nabi yang termasuk dalam ulul azmi? Bagaimana kita akan bisa mengimani bahwa seorang lelaki yang semua anaknya mati, hartanya habis, badannya disentuh penyakit yang mengerikan, istri-istrinya meninggalkannya, bukanlah seorang yang tengah diazab, akan tetapi seorang nabi yang memperlihatkan khazanah ketabahan dalam menjalani ujian Allah? Bagaimana kita akan bisa mengimani bahwa seorang lelaki yang berniat menyembelih anaknya karena itu perintah Allah adalah seorang nabi? Bagaimana kita akan bisa mengimani bahwa seorang lelaki buta huruf itu adalah nabi tertinggi pembawa agama dan kitab suci terakhir?
Ali bin Abi Thalib ra pernah berkata, “Jangan cari kebenaran melalui manusia. Carilah dulu kebenaran itu, maka kamu akan tahu siapa saja yang berjalan dalam kebenaran.”
Sungguh, tidak ada gunanya menjadi anak nakal yang memberontak terus saat dimandikan agar bersih dengan tetap ngotot mengepal erat tangannya yang memegang kotoran. Sekali pun badannya dibersihkan, toh bau kotoran tetap akan tercium dari tangan yang dengan ngotot tetap mengepal menggenggam kotoran tersebut.
Jalaluddin Rumi mengingatkan, “Jangan jadi tukang selingkuh!” Apa itu tukang selingkuh? Keinginannya mendua, yaitu ingin taubat tapi ingin terkenal juga. Ingin taubat tapi ingin mengumpulkan kekayaan dunia juga. Ingin taubat asal Allah tidak menguji dengan mengambil semua kehidupan dunia yang dimilikinya. Ingin taubat tapi ingin punya pasangan yang cantik atau cakep. Itulah tukang selingkuh dalam berjalan menuju Allah.
Kalau dalam wayang kulit itu disimbolkan dengan mata para tokoh baik (Krishna, Pandawa, dan lain-lain) yang hanya satu dan menunduk. Kenapa matanya hanya satu? Sebab hanya Allah yang jadi tujuannya. Tangan para wayang baik itu pun berbentuk “emprit mungup” yang merupakan stilasi dari kaligrafi “Allah.” Sedangkan para buta (raksasa, seperti para Kurawa) itu matanya dua. Kenapa dua? Sebab mendua tujuannya; ingin ini itu, mau ini itu, terobsesi oleh ini itu; tidak ahad pandangannya.
Karena itu, kalau boleh blak-blakan, saran saya sih: Selesaikan saja terlebih dahulu rasa takut itu; puaskanlah terlebih dahulu hasrat masa muda, misalnya ingin terkesan pinter dengan menyelami 'gagahnya' dunia wacana; kenyangkanlah dulu dahaga akan kehidupan dunia; dan berharap saja maut tidak segera menjemput. Kalau takut keburu dijemput maut, ya bersegeralah luruskan pandangan dan niat bahwa hanya jalan kembali kepada Allah sajalah yang dicari dalam hidup ini.
Seandainya masih ada jatah umur, dan sudah terbentur banyak masalah dalam kehidupan ini, maka belajar tashawwuf itu akan terasa sangat indah, memuaskan dahaga dan menyegarkan jiwa, akan menjadi cahaya terang yang menerangi jalan yang penuh dengan ujian akan kesungguhan dan ketulusan pencarian kepada Allah Ta'ala. Kalau masih suka berkeluh kesah, masih memendam dendam membara, masih gemar menghakimi dan berprasangka, masih punya banyak obsesi, dan masih enggan melepas itu semua perlahan-lahan sambil berjalan kembali ke Allah, bakal repot sendiri. Banyak masalah muncul karena kesemua hal yang digenggam erat, tak mau dilepaskan, dan ndilalahnya, malah jadi nyalahin keadaan dan orang lain. Padahal semua yang terjadi itu atas izin Allah, dan semata undangan dari-Nya agar kita kembali dan merasa butuh kepada-Nya.
Kalau masih setengah-setengah niatnya, kalau masih ragu karena masih punya banyak kepenasaran yang belum tercapai terkait kehidupan duniawi, kalau masih ragu karena punya banyak prasangka bahwa dalam tashawwuf dan thariqah itu akan begini begitu, kalau masih jadi tukang selingkuh (niatnya tidak murni HANYA mencari jalan kepada Allah), hmmmmm gimana ya ngejawabnya?
Terakhir, tashawwuf -- dan juga jalan pemurnian jiwa di berbagai agama sebelum Islam -- itu umumnya memiliki satu kesamaan, bahwa “jalan itu harus dijalani sendiri secara langsung dan bukan cuma berpetualang secara wacana melalui buku-buku." Saya sendiri pernah kuliah filsafat, namun tetap berpendapat sama bahwa tashawwuf itu tak seperti filsafat yang hanya bisa dipelajari melalui buku dan buku. Izinkan saya mengutip sebuah kisah yang menyentil dari tradisi Zen berikut ini. Seorang umat bertanya kepada Guru Zen, “Bisakah Anda membantuku memahami arti Zen?” Sang Guru Zen menjawab, “Aku sangat ingin membantu, akan tetapi sekarang aku harus buang air kecil dulu.” Kemudian Sang Guru pun beranjak dari tempat duduknya, lalu mendekati umat tersebut seraya berkata dengan suara lirih, “Coba pikirkan, bahkan untuk hal sepele seperti ini saja, aku harus melakukannya sendiri. Boleh kutanya, bisakah engkau melakukannya untukku?”
Wallahu a‘lam bi shawwab. Demikian. Semoga ada gunanya. Mohon maaf kalau ada silap kateu ta yeu. Wassalam.

Popular posts from this blog

BUku

sepi